
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan ribuan guru untuk mengajar mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) di sekolah. Program pelatihan besar-besaran ini menjadi langkah awal menuju penerapan kurikulum berbasis teknologi yang akan diperluas secara nasional mulai tahun 2026. Pembelajaran koding dan KA menjadi bagian dari program prioritas Kemendikdasmen tahun 2025, namun kunci keberhasilannya dinilai sangat bergantung pada kesiapan guru sebagai ujung tombak pelaksanaan di kelas.
Merespons kebutuhan tersebut, Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah (GTK-PG) meluncurkan serangkaian pelatihan intensif untuk meningkatkan kompetensi para pendidik. Direktur Jenderal GTK-PG, Nunuk Suryani, menekankan bahwa pembelajaran koding dan KA tidak bisa hanya dipahami sebagai kemampuan teknis pemrograman semata. Guru diarahkan untuk memiliki pemahaman konseptual, etis, dan pedagogis agar teknologi dapat diajarkan dengan cara yang relevan dan bermakna bagi peserta didik.
“Program pelatihan Koding dan KA dirancang untuk membentuk generasi yang adaptif dan inovatif. Inisiatif ini tidak hanya fokus pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pengembangan pola kritis dan etis,” ujar Nunuk dalam dialog dengan Forum Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Fortadik), belum lama ini.
Secara teknis, Kemendikdasmen telah menunjuk 90 Lembaga Pelatihan Daerah (LPD) yang bertugas menyiapkan 3.425 calon pelatih (trainer of trainers). Para pelatih ini nantinya akan mendampingi guru di lapangan untuk mengimplementasikan pembelajaran koding dan KA. Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 59.546 sekolah penerima Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Terkait pendanaan, kebijakan terbaru memungkinkan dana BOSP Reguler dan BOSP Kinerja digunakan untuk perbaikan mutu pembelajaran, termasuk pelatihan koding dan KA, sehingga sekolah dapat menyesuaikan diri tanpa terkendala biaya.
Pelatihan akan dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah Indonesia mulai April hingga Juni 2025. Kemendikdasmen membaginya menjadi enam gelombang yang mencakup seluruh provinsi, dari Aceh hingga Papua. Guru dari jenjang SD hingga SMA akan mengikuti sesi pelatihan daring dan luring dengan model blended learning. Selain keterampilan teknis, materi pelatihan juga menekankan pentingnya etika digital dan tanggung jawab sosial, termasuk pemahaman dampak kecerdasan artifisial terhadap kehidupan manusia.
Keberhasilan implementasi koding dan KA pada akhirnya bergantung pada ekosistem belajar yang mendukung. Selain peningkatan kapasitas guru, pemerintah juga berkomitmen memperkuat sarana belajar, menyesuaikan kurikulum, dan menyediakan sistem penjaminan mutu pelatihan yang berkelanjutan.





